Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Indonesia

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Indonesia – Artikel ini sudah memuat daftar referensi, bacaan terkait, atau pranala luar, namun sumbernya tidak jelas karena kalimatnya tidak dikutip. Harap tingkatkan kualitas artikel ini dengan menambahkan referensi yang lebih detail jika diperlukan. (Lihat bagaimana dan kapan menghapus pesan templat ini)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (disingkat FEB UI) adalah kumpulan ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang ada di Universitas Indonesia. Sebelumnya FEB UI bernama FE UI hingga pada tahun 2015 terjadi perubahan nomenklatur fakultas. Hal ini berdasarkan keputusan MWA UI.

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Indonesia

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Indonesia

FEB UI menyelenggarakan program pendidikan sarjana (S1), profesi akuntansi, magister (S2), dan doktor (S3), serta program pelatihan non-gelar lainnya. Dekan FEB UI saat ini adalah Teguh Dartanto, Ph.D.

Jurusan Favorit Universitas Indonesia Tahun 2023

Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI didirikan pada tanggal 18 September 1950 dan saat ini berlokasi di kampus UI Depok. Lahirnya fakultas ini bermula ketika Departemen Sosial Ekonomi (FHUI) Fakultas Hukum Universitas Indonesia berpisah dan memutuskan untuk berdiri sendiri sehingga membentuk fakultas baru yaitu Fakultas Ekonomi. Pada saat yang sama, mahasiswa ilmu ekonomi dari Akademi Nasional bergabung dengan fakultas baru. Jadi mereka adalah mahasiswa FEUI angkatan pertama.

Pada tahun-tahun awal lahirnya FEUI, kegiatan perkuliahan berlangsung dalam situasi darurat. Saat itu jumlah tenaga pengajar sangat terbatas dan hanya ada satu guru Indonesia yaitu Prof. PERTANYAAN. R. Soenario Kolopaking juga merupakan dekan pertama FEUI. Perkuliahan dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu Aula Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian di Jalan Tambak, Gedung Seni Pasar Baru, dan Gedung Adhoc Stat (sekarang Jalan Diponegoro di Bappena). Mahasiswa sendiri juga harus mengurusi urusan administrasi.

Pada tahun 1951, Prof. Selaku Dekan FEUI, Soenario menyatakan akan mengundurkan diri. Beberapa perwakilan mahasiswa angkatan pertama mengundang Dr. Soemitro dan memintanya menjadi dekan FEUI dan dia menyetujuinya. Kesediaan Soemitro – meski saat itu belum menjadi guru besar – menjadi solusi permasalahan manajemen FEUI. Pada masa kepemimpinan Dr. Soemitro, FEUI mengirimkan beberapa asisten peneliti ke berbagai universitas di Amerika dengan dukungan dana dari Ford Foundation. Selain itu, FEUI juga mendatangkan dosen asal Amerika sehingga mengurangi dominasi guru Belanda di kampus. Di FEUI juga ditambah dengan jurusan-jurusan yang ada, karena semula hanya mempunyai satu jurusan (Ekonomi Bisnis), kemudian berkembang menjadi tiga jurusan yaitu Ekonomi Umum, Sosiologi Ekonomi, dan Ekonomi Bisnis. Pada periode ini, kegiatan FEUI mulai merambah ke bidang penelitian yang dilakukan melalui seminar ekonomi bisnis dan pusat penelitian masyarakat. Pusat Penelitian Masyarakat kemudian menjadi Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat pada tahun 1953.

Pada tahun 1964, Prof. Wjojo Nitisastro diangkat menjadi Dekan FEUI. Belaiu merupakan dekan pertama yang lulus dari FEUI. Banyak perubahan yang terjadi selama ini, terutama dalam pembentukan lembaga pendukung. Lembaga Kependudukan merupakan lembaga pertama yang didirikan Wjojo pada tahun 1964. Tahun berikutnya, laboratorium statistik didirikan. Secara akademik memang terdapat perubahan karena awal tahun ajaran yaitu bulan September sampai dengan bulan Februari, namun hal ini lebih disebabkan oleh krisis politik yang terjadi di Indonesia.

Poster The 17th Audit Conference (atv) Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Indonesia

Pada tahun-tahun berikutnya, FEUI berkembang pesat. Dipimpin oleh Prof. Ali Wardhana (1968-1978), Iluni FEUI, mendirikan. Pada tahun 1982, sistem perkuliahan berubah dari sistem berjenjang menjadi sistem kredit. Dipimpin oleh Prof. Dr. Mohammad Arsjad Anwar (1988-1994), FEUI Kampus Salemba pindah ke Kampus UI Depok.

Sejauh ini terdapat 15 Dekan di UI Februari. Teguh Dartanto saat ini menjabat sebagai dekan menggantikan Beta Yulianita Gitaharie yang dipromosikan menjadi penjabat dekan menggantikan Rektor terpilih Ari Kuncoro.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Antarmuka mengelola 3 jurusan yaitu Jurusan Ekonomi, Jurusan Manajemen, Jurusan Akuntansi, Program Studi Ekonomi dan Bisnis Islam dan Jurusan Kelas Khusus Internasional.

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Indonesia

Jurusan, Jenjang Pendidikan, Kualifikasi Nasional, Program Studi dan Peminatan [ sunting | edit sumber ] Program sarjana [ sunting | ganti sumber]

Poster The 17th Audit Competition (atv) Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Indonesia

Program Sarjana adalah program pendidikan tinggi yang ditujukan bagi lulusan yang memenuhi syarat untuk memperoleh keterampilan dasar dan keterampilan keilmuan dalam bidang keilmuan tertentu; mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilannya sesuai dengan basis pengetahuannya; Anda dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan seni. Dalam klasifikasi KKNI, pendidikan sarjana berada pada level 6. Terdapat beberapa jenis kelas pada program sarjana di Universitas Indonesia, yaitu: kelas reguler, paralel, internasional dan ekstensi (D3 bagi lulusan).

Pendidikan kejuruan adalah program pendidikan tinggi pasca-sarjana muda yang mempersiapkan siswa untuk pekerjaan dengan persyaratan keterampilan khusus. Dalam kerangka kualifikasi nasional Indonesia, pendidikan vokasi berada pada level 7. Program profesi yang dipilih harus linier dengan program sarjana.

Gelar master adalah program pendidikan tinggi setelah program gelar sarjana. Dalam klasifikasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, jenjang magister berada pada level 8. Program magister yang dapat dipilih dapat berupa program sarjana linier yang mirip dengan program magister, atau program magister tertentu menerima sarjana dari disiplin ilmu yang berbeda.

Program doktor (S3) merupakan program pendidikan strata 3 (S3) yang bertujuan untuk mencapai gelar akademik doktor (Dr) sebagai gelar akademik tertinggi. Di KKNI, kurikulum program doktor berada pada level tertinggi yaitu level 9. Seminar internasional bertemakan “Seminar Internasional Indonesia: Menavigasi Masa Depan Rantai Nilai Global dan Transisi Hijau” dengan konferensi pers pada Senin (27/11). ). /2023) di Balai Purnomo Prawiro, FISIP UI, Depok, Jawa Barat.

Asosiasi Fintech Syariah Indonesia

Solopos – Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ke-21 kembali menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Indonesia International Seminar: Navigating the Future of Global Value Chain and Green Transition” sekaligus konferensi pers pada hari Senin. 27/11/2023) di Balai Purnomo Prawiro, FISIP UI, Depok, Jawa Barat dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Economix FEB UI.

Di usianya yang ke-21, Economix menyelenggarakan beberapa acara yang meliputi seminar internasional, kompetisi internasional dan MUN (Model United Nations) yang diikuti oleh mahasiswa, dosen dan masyarakat dari berbagai negara.

Tujuan diadakannya acara Economix FEB UI adalah untuk membantu masyarakat dari berbagai latar belakang berdiskusi, berbagi dan bertukar pikiran untuk mencari solusi permasalahan global saat ini.

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Indonesia

Economix rutin menyelenggarakan seminar internasional setiap tahunnya. Seminar internasional tahun ini sangat sukses.

The 21st Economix Feb Ui Sukses Gelar Seminar Internasional Dan Konferensi Pers Yang Didukung Tokoh Nasional Serta Internasional

Acara ini dibagi menjadi dua sesi dan orang-orang terkenal seperti Dr. (H.C.) M. Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Indonesia, Koji Hachiyama, Prof. Ir. Purnomo Yusiantoro, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan Menteri Pertahanan Juan Permata Adoe, H.E. Penny Williams, Nelwin Aldriansyah, Dida Gardera, Felia Salim, Ir. Yudo Dwinanda Priaadi, Dr. Hubungan Ridho San dan Tom Lembong – Wakil Kapten Timnas Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Tidak hanya itu saja, Dr. Perwakilan calon presiden Ganjar-Pranowo Pumpida Hidayatullah pun turut serta dalam acara yang sangat berkesan ini.

Dalam pidato pembukaannya pada seminar internasional Economix ke-21, Dr. (H.C.) M. Jusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden RI) menyampaikan pandangannya mengenai globalisasi. Kalla mengatakan semua negara maju menghargai waktu dan ia menjelaskan perjalanan globalisasi berdasarkan pengetahuan dasar sejarah.

“Globalisasi bukanlah sebuah konsep yang muncul begitu saja. Apa alasannya? Apa konsekuensinya? Pertanyaan-pertanyaan ini telah menjadi perhatian kita sejak awal era globalisasi pada tahun 1980an. Saat itu, pada masa Depresi tahun 1929, ekonom John Maynard Keynes mengusulkan peran penting pemerintah. Namun pada tahun 1950-an, Milton Friedman kembali memperkenalkan konsep liberalisme ekonomi, kata Jusuf Kalla.

Untuk memahami globalisasi, Dr. (H.C.) M. Jusuf Kalla menyoroti Perang Dingin antara sistem ekonomi Amerika Serikat dan Uni Soviet yang berujung pada runtuhnya Uni Soviet. Ia juga membahas transisi Tiongkok dari perekonomian tertutup menjadi terbuka dan peran teknologi sebagai manifestasi penting globalisasi saat ini.

Gedung Feb Ui

Kalla menunjukkan dampak globalisasi di bidang manufaktur, seperti produksi ponsel dengan desain Amerika, material Taiwan, dan manufaktur di China yang juga terdapat pada industri pakaian. Namun Kalla juga mengingatkan dampak negatif globalisasi yang mengancam persaingan ekonomi negara-negara berkembang, menurunkan stabilitas pasar dunia, dan memberikan tekanan pada industri di beberapa negara tersebut.

Koji Hachiyama (ASEAN dan East Asia-ERIA COO Institute for Economic Research) berpartisipasi dalam seminar internasional tersebut. ERIA adalah organisasi internasional yang bergerak di bidang penelitian dan peningkatan kapasitas terkait kerja sama ekonomi, pengurangan kesenjangan pembangunan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Prof. Ir. Sebagai keynote speaker subtema 1, Purnomo Yusiantoro (mantan Menteri ESDM dan mantan Menteri Pertahanan) membahas topik “Pentingnya Kegiatan Hilirisasi sebagai Strategi Pembangunan dan Restrukturisasi Ekonomi di Negara Berkembang: Indonesia,” menginformasikan pandangannya. Dalam jumpa pers tersebut, ia mengucapkan terima kasih kepada Komite Economix ke-21 atas undangannya dan merasa senang karena siap mendukung generasi muda pewaris Indonesia di masa depan.

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Indonesia

Juan Permata Adoe (Wakil Ketua Perdagangan KADIN) membahas strategi untuk Indonesia berkelanjutan. “Ekspor Indonesia saat ini akan mengalami penurunan sekitar 12% pada tahun 2023, sehingga kita perlu melihat bagaimana meningkatkan ekspor dengan adaptasi teknologi,” ujarnya. Duta Besar Australia untuk Indonesia H.E. Ibu Penny Williams PSM juga hadir untuk membahas pentingnya perekonomian berkelanjutan dan kemitraan investasi antara Indonesia dan Australia.

Donor Darah Alumni Feb Universitas Indonesia

Nelwin Aldriansyah (Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy) menekankan pentingnya energi panas bumi sebagai energi berkelanjutan di Indonesia. Pertamina telah berkomitmen untuk mencapai nihil emisi pada tahun 2060 dan berencana meningkatkan kontribusi panas bumi hingga 25% dalam tiga tahun ke depan. Dida Gardera (Wakil Menteri Pertanian Koordinator Kesejahteraan Ekonomi RI) membuka seminar sesi kedua). dari Indonesia) yang dipimpin oleh Felia Salim (Dewan Direksi AndGreen Fund) yang fokus pada investasi berkelanjutan untuk mendukung ekonomi hijau global.

Tom Lembong (co-captain timnas, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar) memaparkan visi kampanye Anies-Muhaimin untuk mengintegrasikan Indonesia dalam presentasinya “The Barbenheimer Economy”.

Fakultas ekonomi dan bisnis universitas airlangga, fakultas ekonomi dan bisnis, biaya fakultas ekonomi dan bisnis universitas indonesia, fakultas ekonomi dan bisnis terbaik di indonesia, universitas indonesia fakultas ekonomi dan bisnis, universitas indonesia fakultas ekonomi, fakultas ekonomi dan bisnis universitas hasanuddin, fakultas ekonomi dan bisnis universitas brawijaya, fakultas ekonomi dan bisnis universitas udayana, fakultas ekonomi dan bisnis universitas indonesia foto, fakultas ekonomi dan bisnis universitas padjadjaran, fakultas ekonomi dan bisnis universitas indonesia alumni penting

Leave a Comment